Himawari-9 IR Kalteng
Menampilkan peta suhu puncak awan khusus wilayah Kalimantan Tengah. Warna jingga, merah, hingga magenta mendeteksi pertumbuhan awan konvektif tebal (potensi cuaca ekstrem/awan Cumulonimbus lokal).
Citra satelit cuaca dan penginderaan jauh terbaru untuk wilayah Kalimantan Tengah dan Indonesia secara real-time.
Perhatian: Setiap penggunaan citra wajib mencantumkan BMKG sebagai sumber resmi. Pemotongan gambar tanpa menyertakan logo BMKG tidak diperbolehkan!
Navigasi langsung tampilan satelit BMKG pusat wilayah Indonesia & Kalimantan
Menampilkan peta suhu puncak awan khusus wilayah Kalimantan Tengah. Warna jingga, merah, hingga magenta mendeteksi pertumbuhan awan konvektif tebal (potensi cuaca ekstrem/awan Cumulonimbus lokal).
Menunjukkan suhu puncak awan skala nasional. Warna jingga hingga merah menunjukan pertumbuhan awan signifikan yang berpotensi menghasilkan hujan lebat.
Mengamati proses konvektifitas, ketebalan awan, dan unsur mikrofisis atmosfer. Hanya dapat dianalisis optimal pada waktu pagi hingga sore hari.
Menampilkan kelembaban atmosfer lapisan menengah hingga atas. Warna coklat mengindikasikan area kering, sedangkan biru menandakan pasokan udara basah.
Estimasi potensi intensitas curah hujan kategori ringan, sedang, hingga sangat lebat berdasarkan perhitungan algoritma suhu puncak awan.
Mendeteksi anomali thermal atau suhu panas tinggi (indikasi titik api/hotspot) serta sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah ASEAN.
Menangkap radiasi objek pada panjang gelombang mata manusia. Sangat detail dan tajam untuk mengamati bentuk topografi serta batas sel awan.
Rapid Development Thunderstorm Identifier. Deteksi dini sel awan Cumulus yang berpotensi kuat tumbuh menjadi awan badai Cumulonimbus dalam rentang 1 jam ke depan.
Kombinasi overlay citra satelit Infrared (IR1) dengan visualisasi garis vektor arah serta kecepatan pergerakan angin pada lapisan atmosfer bawah (850mb).
Klasifikasi otomatis jenis-jenis awan (seperti awan tinggi, menengah, rendah, atau konvektif) yang sedang melintasi wilayah kedaulatan Indonesia.
Data pancaran sekunder dari satelit meteorologi Korea Selatan (Geo-Kompsat-2A) yang digunakan sebagai pembanding validasi nilai suhu puncak awan.
Estimasi akumulasi total curah hujan harian (durasi 24 jam ke belakang) memanfaatkan integrasi jaringan satelit global.
Pembaruan intensitas curah hujan per jam (satuan mm/jam) secara global dan regional untuk mendeteksi pergerakan sistem cuaca buruk.
Kompilasi sebaran titik api permukaan yang disaring dan terdeteksi melalui instrumen sensor satelit orbit polar (Satelit NOAA, TERRA, AQUA).
Sistem Informasi ini dibangun tidak hanya dari baris-baris kode, melainkan dari sebuah ketulusan dan dukungan tanpa henti. Terima kasih yang tak terhingga kepada Dania, sosok luar biasa yang selalu memberikan pundak, kesabaran, dan semangat terbesar di saat sistem ini dirancang dari nol hingga bisa melangkah sejauh ini.
"Setiap keberhasilan sistem ini, selalu ada doamu yang menyertainya."